Breaking News

"BUNUH DIRI GEOPOLITIK"

 "BUNUH DIRI GEOPOLITIK"



Analisis Geopolitik tentang Kebangkrutan Amerika dan Perang Dunia III dari Perspektif Gejala_


Hari ini, dunia tidak sedang menuju keteraturan baru. Ia berada di fase kesemrawutan namun seolah-olah terkelola. Padahal sich kacau balau. Ditandai dengan tata dunia lama mulai runtuh, sementara tatanan baru belum terbangun. Masih dicari polanya. Maka sebagai implikasi, kekuasaan pun beroperasi secara improvisatif, agresif, dan nyaris tanpa rasa malu.


Barangkali inilah momen untuk melihat teori Antonio Gramsci (1891 - 1937) silam:


"The old world is dying, and the new world struggles to be born; now is the time of monsters."


(Terjemahan bebas: dunia lama sedang sekarat, dan tatanan baru berjuang untuk lahir; sekarang zaman para monster).


Dalam konteks kekinian, dampak perilaku (geo) politik Amerika Serikat (AS) akhir-akhir ini yang cenderung brutal – layak dijuluki sang monster seperti isyarat Gramsci. Penyebutan monster dimaksud, bukan karena faktor kekuatannya -- itu dulu. Kini lebih condong pada keletihan, kepanikan, bahkan kegagapan dalam menjalani masa kini serta menatap masa depan. Pertanyaan menarik muncul, “Kenapa AS bisa panik?” Nanti kita ulas sepintas. 


Maka lahirnya Trump Corollary bukan tanpa alasan (silakan baca: Trump Corallary: Ke Mana Melaut dan Berlabuh?), ia justru simpton jujur dari kegagalan AS memelihara rule-based order yang dahulu didesainnya sendiri. Ketika hukum internasional tak lagi menguntungkan, ia abaikan. Tatkala multilateralisme menjadi beban, diubahnya menjadi komoditas yang dapat ditawar. Inilah paradoks imperium tua. Semaunya sendiri. Ia menuntut kepatuhan global di satu sisi, sembari menginjak aturan pada sisi lain. Begitu potret sekilas perilaku Paman Sam di panggung geopolitik global.


Isu Greenland adalah cermin hipokrasi tersebut. Rencana aneksasi sebenarnya bukan pilihan rasional-logis bagi siapapun adidaya. Secara tatanan, tak hanya amoral, nir-etika, tak beradab -- tapi biaya (geo) politiknya pun sangat mahal. Yang diinginkan AS sebenarnya bukan prosedur formal, melainkan kontrol riil di lapangan. Penguatan pangkalan militer (Thule Air Base), misalnya, atau konsesi sumber daya, eksklusivitas investasi, ataupun menjinakkan posisi Denmark (pemilik Greenland) via NATO. Ini neokolonialisme terbaru di abad ke-21. Tanpa bendera, tanpa deklarasi, tanpa rasa bersalah, dan tanpa rasa malu.


Bagi para adidaya, Greenland adalah aset masa depan. Investasi jangka panjang -- bukan target simbolik yang perlu direbut dengan cara kasar. Aneksasi formal justru akan menjadi “bunuh diri massal geopolitik”. Di sana, memang disebut-sebut menyimpan deposit mineral strategis (rare earth elements/REE dan uranium) yang nilai asetnya tak terhingga lagi belum disentuh, plus jalur baru pelayaran global di utara via (chokepoint) Laut Arktik. Jalur ini akan mengubah rute pelayaran lazimnya. Kapal tanker atau kargo dari Shanghai ke Rotterdam contohnya, bila lewat jalur ini bisa memangkas waktu 40% lebih cepat ketimbang melintasi Terusan Suez.


Dalam operasional Trump Corollary, langkah tersebut identik “sekali dayung dua pulau terlampaui”. Secara (geo) ekonomi menguasai REE dan uranium tak terhingga. Secara (geo) strategi, mengendalikan chokepoints Arktik.


Muncul tiga analisis strategis atas rencana aneksasi tersebut:


Pertama, aneksasi secara terbuka akan meretakkan, bahkan meruntuhkan bangunan NATO yang selama ini menopang hegemoni AS; 


Kedua, mempercepat disintegrasi Barat; dan 


Ketiga, justru memperkuat narasi perlawanan BRICS dan Global South kepada AS sendiri. 


Inilah yang dikatakan sebagai bunuh diri geopolitik secara massal.


Seyogianya strategi yang dipilih adalah silent capture. Dominasi tanpa gegap gempita, pengambilalihan tanpa kegaduhan. “Pendudukan sunyi.” Itulah pola cerdas yang harusnya ditempuh. Cara dan model yang kini tengah dijalankan oleh Israel di Somaliland.


Hal lain, Iran menjadi isu yang mampu mematahkan mitos kedigdayaan AS. Hingga detik ini, Negeri Para Mullah terbukti tak mampu ditumbangkan. Yang bisa dilakukan AS hanya melemahkan kapasitas Iran. Tak lebih. Lewat sanksi ekonomi, misalnya, atau sabotase teknologi, proxy war, pembatasan nuklir, perang intelijen dan laimnya. Semua manuver non militer AS tadi bermuara pada pelemahkan kebangkitan Iran, bukannya penghancuran.


Mengapa begitu? 


Sebab, Iran memiliki "senjata" yang jarang dipunyai negara lain, yaitu persenjataan geografi alias weaponization of geography. Di mata global, Selat Hormuz itu ibarat pisau bedah yang ditempel  di leher sistem ekonomi global. Seandainya Hormuz ditutup dengan alasan kepentingan nasionalnya terganggu ---ini dibolehkan dalam UNCLOS 1982--- niscaya timbul dampak berantai lagi meluas. Entah kolapsnya ekonomi, inflasi sistemik, krisis kawasan, hingga instabilitas global. 


Kenapa demikian? 


Harga minyak pasti terbang tinggi, karena setiap hari hampir 40-an persen minyak global hilir mudik di Selat Hormuz. Itulah kenapa AS tidak pernah benar-benar berani melampaui batas tertentu dalam menghadapi Iran. Kudunya ia menyadari, bahwa Iran bukan negara yang mutlak ditaklukkan, tapi implikasi risiko yang harus diminimalisir. Dikendalikan.


Balik ke Paman Sam. Semua tadi sebenarnya hanya sekadar gejala belaka. Sumber penyakitnya justru di tubuh AS sendiri. Bahwa hegemoni butuh harga tinggi. Itu pasti. Sedangkan kini ia tak mampu lagi membiayai kiprah hegemoninya. Isu deindustrialisasi menggerogoti basis ekonomi, defisit fiskal membengkak tanpa kendali, dolar kehilangan aura absolutnya, narkotika dan pengangguran mewabah, sementara aliansi globalnya berubah menjadi relasi transaksional yang rapuh dan penuh rasa curiga.

 

Itulah sebabnya AS menarik diri dari 66 organisasi internasional yang dulu ia sponsori. Bukan tak paham fluktuasi geopolitik, semata-mata karena faktor kebangkrutan. Imperium yang sudah tidak sanggup membiayai hegemoninya cenderung memilih hard power daripada konsensus. Dan Trump -- dengan segala vulgaritasnya, hanya potret buram dari kelelahan Imperium Amerika. 


Dalam kondisi seperti ini, seyogianya ia tidak lagi bicara ambisi hegemoni, ekspansi dan/atau upaya pemenangan. Yang ideal itu penundaan. Strategi utamanya bukan lagi menaklukkan dunia, tapi memperlambat hilangnya kendali. Delay strategy menjadi opsi rasional bagi sebuah hegemoni yang tengah kehabisan napas. 


Sejarah mengajarkan, ketika suatu imperium hanya mampu menunda, sejatinya sudah kalah – hanya saja belum mengakui.


Sebelum mengakhiri catatan kecil ini, penulis teringat pidato Bung Karno (BK) soal Kapitalisme, bahwa:


“Kapitalisme yang terjebak krisis akhirnya membuahkan fasisme, sedang fasisme ialah perjuangan para monopolis yang terancam bangkrut“.


Agaknya, praktik Trump Corollary di Amerika Latin dan Greenland seperti merefleksikan tata cara fasisme seperti isyarat BK. Yaitu perjuangan kapitalis yang cenderung bangkrut berubah menjadi fasis.


Celakanya, AS punya pengalaman emas soal pemulihan krisis lewat tata cara perang. Dulu. Ketika ia dilanda Great Depression 1930-an -- diletuskanlah perang dunia (PD II), seketika nadi ekonomi AS pun kembali menggeliat, bahkan paling kuat pasca-PD II.


Simpulan lama, PD II secara efektif mengakhiri Great Depression karena menciptakan lapangan kerja besar-besaran, mendorong produksi industri strategis, memacu belanja pemerintah, konsumsi publik dan lainnya. Artinya, perang dunia berfungsi sebagai “mesin ekonomi” yang mempercepat pemulihan ekonomi AS.


Pertanyaan menggelitik muncul di ujung catatan, “Apakah AS bakal mengulang pola keberhasilan pemulihan ekonomi meniru Great Depression tempo doeloe?”


Nah, pada momen itulah, Trump Corollary akan menulis takdirnya sendiri.


Demikian. Terima kasih.


**) MAP 150126, 08:44, Soetta

© Copyright 2022 - SAHABAT POLRI