Breaking News

TUKANG PARKIR

 TUKANG PARKIR



Sebuah pagi yang cerah di kawasan elit Ciumbuleuit, Bandung. Angin sejuk khas pegunungan mengalir pelan, menyentuh setiap sudut area parkir sebuah kafe mewah yang baru saja dibuka tiga bulan lalu dan viral di media sosial karena desainnya yang instagenik.


Hari itu, keluarga besar Bu Erlina datang ke kafe tersebut untuk merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke-25. Ia adalah seorang pengusaha sukses yang memiliki klinik kecantikan dengan 5 cabang di kota besar.


Dengan pakaian elegan dan perhiasan mahal, Bu Erlina turun dari mobil Alphard hitamnya bersama suami dan anak-anaknya. Ketika hendak membuka pintu, datang seorang tukang parkir berjaket lusuh dan topi lapuk, membantu membukakan pintu sambil tersenyum dan menyapa dengan sopan.


“Selamat pagi, Ibu. Silakan, semoga hari Ibu menyenangkan.”


Bu Erlina menatap sekilas wajah tukang parkir itu. Ada sesuatu yang mengusik hatinya. Cara pria itu berbicara… sangat familiar.


Ia memperhatikannya dengan seksama dan tiba-tiba matanya membulat.


“Mas Fauzan?” tanyanya ragu.


Pria itu menoleh cepat dan tersenyum lebar, “Masya Allah, Bu Erlina… ini benar-benar kejutan.”


Mereka berjabat tangan. Bu Erlina terdiam sejenak. “Mas Fauzan... yang dulu jadi ketua OSIS SMA kita dan selalu jadi pembicara di acara motivasi?”


“Betul, saya,” jawab pria itu ramah.


Bu Erlina tertawa kecil, agak canggung. “Ya Allah, nggak nyangka. Sekarang kerja jadi tukang parkir, Mas?”


“Ya begitulah, bantu-bantu di sini,” jawabnya tenang.


Seketika itu, muncul bisikan di hati Bu Erlina. Ia tersenyum ramah, tapi dalam hati bertanya-tanya. 


Mas Fauzan yang dulu penuh wibawa, jadi tukang parkir? Kasihan sekali...


Beberapa saat kemudian, manajer kafe menghampiri untuk menyambut tamu VIP. Bu Erlina, yang masih penasaran, bertanya padanya dengan suara pelan.


“Mas, tukang parkir tadi yang pakai topi tua itu, sudah lama kerja di sini?”


Manajer itu tampak heran. “Ibu kenal dengan Pak Fauzan?”


“Iya, kami teman SMA dulu. Saya kaget juga… dia sekarang jadi tukang parkir.”


Manajer itu tersenyum, lalu berkata pelan, “Maaf, Bu, mungkin Ibu belum tahu. Pak Fauzan adalah pemilik kafe ini. Bahkan semua tanah di area ini milik beliau. Hari ini beliau memang sengaja menjadi tukang parkir, katanya ingin kembali mengingat awal mula perjuangannya.”


Bu Erlina terperangah. “Apa? Tapi kenapa… dia nggak bilang?”


*"Memang begitu gaya beliau. Katanya, lebih baik menjadi orang biasa yang memberi manfaat, daripada menjadi orang besar yang hanya ingin dipuja.”*


Tertegun, Bu Erlina berdiri dan mendekati area parkir. Di sana, Fauzan sedang menata motor pengunjung dengan tenang. Ia menghampiri.


“Mas… jadi ini semua… punyamu?”


Fauzan menatapnya dan tersenyum. “Iya. Tapi hanya titipan. Hari ini saya ingin kembali merasakan bagaimana rasanya melayani. Karena saya takut hati ini terlalu tinggi sampai lupa dari mana saya berasal.”


Bu Erlina nyaris meneteskan air mata. “Saya sempat mengira Mas sudah jatuh… padahal saya yang sedang belajar naik… ternyata belum tahu arah yang benar.”


Fauzan hanya berkata lirih, _"Dalam Islam, yang paling mulia bukan yang paling kaya, tapi yang paling bertakwa. Dan takwa itu butuh ujian. Kadang ujian itu berupa kesuksesan… yang bisa membuat kita lupa diri.”_


Bu Erlina menunduk dalam. Ia merasa seolah ditampar tanpa suara. “Mas… saya banyak belajar hari ini.”


Fauzan menepuk lembut bahunya. “Semoga rezeki kita selalu barokah. Bukan hanya banyak, tapi membawa kebaikan.”




Hikmah Islami:


Kisah ini mengingatkan kita pada pesan Rasulullah ï·º bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.


 Tidak peduli penampilan atau jabatan kita hari ini, yang Allah nilai adalah ketulusan hati dan amal perbuatan kita. Rendah hati di puncak kejayaan adalah tanda kematangan iman.


“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”


 (HR. Muslim)

© Copyright 2022 - SAHABAT POLRI